Marchaela tells u a story
Sebutir Telur Shocking Pink dalam Keranjang Sempit

Pada hari Minggu Paskah, seperti biasa di depan Gereja ada yang menjual bingkisan telur paskah. Sebutir telur asin yang dihias kertas mengkilat ditata dalam sebuah keranjang karton beserta snack anak-anak. Kakakku membelikan sebuah untuk keponakanku yang masih balita. Dan seperti anak kecil lainnya, keponakanku sangat gembira. Dia tidak perduli bahwa telurnya dihias sangat sederhana dan kurang terlihat cantik di mata orang dewasa sepertiku. Padahal, 20 tahun yang lalu, aku merasakan antusiasme yang sama seperti keponakanku sewaktu orangtuaku membelikan telur paskah untukku.

            Begitulah. Tradisi telur hias di hari Paskah turut menemani masa kanak-kanakku. Mulai dari telur cokelat hingga tugas keterampilan dari sekolah untuk menghias telur yang kemudian disumbangkan untuk anak-anak panti asuhan atau kakek-nenek di panti jompo. Di luar makna iman kristiani akan perayaan Paskah, telur paskah begitu melekat dalam benakku, sama melekatnya dengan ikon sinterklas di hari Natal.

            Dari semua telur paskah yang kuterima dan yang kuhias, aku tidak akan pernah melupakan sebutir telur rebus yang diwarnai dengan kesumba shocking pink dan diletakkan dalam sebuah keranjang rotan mini yang kesempitan. Telur paskah itu diberikan oleh kakekku (aku memanggil beliau dengan sebutan “engkong”). Waktu itu usiaku sepuluh tahun. Sebenarnya telur itu diberikan oleh rumah sakit untuk Engkong. Engkong saat itu memang sedang sakit dan dirawat sekian lama di RS Borromeus. Namun, pada hari Minggu Paskah itu kami tidak datang menjenguk Engkong. Orangtuaku baru menjenguk Engkong lagi dua hari kemudian, itu pun aku tidak turut serta. Engkong masih menyimpan telur shocking pink itu lalu menitipkannya pada orangtuaku. Karena telur itu adalah telur ayam, tentu saja kondisinya sudah kurang baik. Aku tidak ingat apakah pada akhirnya telur itu kumakan atau tidak. Namun, aku tidak akan pernah melupakan telur paskah pemberian Engkong.

            Engkong meninggal saat aku masih duduk di kelas lima SD. Itu adalah sesuatu yang tidak pernah kuduga. Di usia itu, aku sudah paham bahwa suatu saat setiap manusia akan meninggal. Tapi aku tidak menyangka bahwa Engkong akan meninggal secepat itu. Waktu itu aku selalu berpikir bahwa Engkong akan sembuh. Engkong meninggal di usia 70 tahun. Belum terlalu tua, bukan? Engkong tidak sempat menyaksikan aku menjadi remaja yang menyebalkan, tidak sempat menyaksikan pernikahan cucu-cucunya dan tidak melihat kelahiran cicit-cicitnya. Engkong juga tidak sempat merasakan dampak global warming, musim penghujan berlangsung sepanjang tahun, dan tidak sempat menyaksikan kecanduan orang-orang akan facebook dan Blackberry.

            Engkong adalah sosok kakek yang sangat baik dan penuh kasih sayang pada cucu-cucunya. Tapi setahuku, Engkong baik pada semua orang. Dan aku percaya bahwa Engkong pasti masuk surga. Terkadang, aku merindukan Engkong. Namun, betapa pun aku rindu, aku tidak bisa bertemu lagi dengan Engkong. Hingga suatu hari nanti mungkin di atas sana.

            Beberapa kali aku sempat berpikir, sayang sekali Engkong tidak sempat melihatku tumbuh dewasa. Jika ada hal yang kusesali, aku menyesal karena tidak memiliki waktu lebih banyak bersama kakek dan nenekku. Dan saat aku menjejak kembali di hari ini, ternyata waktu yang kuluangkan bersama keluargaku pun sudah tersita banyak. Beberapa kali aku mengeluh pada temanku, mengapa waktu berjalan begitu cepat, kita semakin tua dan semakin banyak yang tidak sempat kita kerjakan. Satu-satunya hal yang dapat kita lakukan saat kuantitas waktu semakin sedikit adalah memanfaatkan waktu yang ada seberkualitas mungkin. Hiduplah dengan sebaik mungkin, berbuat baiklah sesering mungkin, dan tunjukkanlah kasih sayangmu pada orang yang kau cintai_pada keluargamu (Aku termasuk tipe orang yang kekeluargaan dan hingga hari ini aku masih senang pergi bersama keluarga).

            Sebutir telur berwarna shocking pink dalam keranjang rotan yang kesempitan selalu lekat dalam bayanganku di setiap paskah. Telur itu mengingatkanku untuk selalu mendoakan orangtuaku, keluargaku, agar mereka selalu sehat dan tentu saja nanti dapat turut membesarkan anak-anakku dengan penuh kasih sayang seperti Engkong yang menyayangi aku dan orangtuaku yang menyanyangi keponakanku. Telur ini juga mengingatkanku betapa berharganya waktu dan betapa sia-sianya bila kita menghabiskan waktu untuk hal-hal yang negatif. Hiduplah dengan penuh syukur, hiduplah dengan penuh kasih sayang, hiduplah dengan penuh semangat berbagi. Jalanilah hidup dengan baik sekalipun kondisi dunia saat ini sudah tidak baik.

            Selamat Paskah! Damai beserta kita sekalian. Praise The Mighty Lord! Tuhan memberkati kita semua… AMIN

x.o.x.o

Marchaela

Ketika Kristus berkata “Jangan takut”, sesungguhnya Ia hendak menjawab sumber terdalam ketakutan eksistensial manusia. Yang Ia maksudkan ialah jangan takut akan kejahatan, karena dalam kebangkitan-Nya, kebaikan telah menunjukkan Diri-Nya lebih kuat dari pada kejahatan. Injil-Nya adalah kebenaran yang jaya.(Beato Yohanes Paulus II)
ARI-ARI

           

“Kenapa, Ma?” Nikolas, anak sulungku, bertanya dengan kening berkerut khawatir tatkala melihatku berdiri mematung tak berdaya di muka pintu sebuah rumah tua bergaya arsitektur jaman belanda.

            “Kamu saja yang bunyikan belnya, Niko!” jawabku seraya berdiri merapat di balik bahu bidang putraku.

            Nikolas menyipitkan matanya dengan skeptis, “Ih, mama!” namun tak urung ia memencetkan bel. Saat mendengar suara langkah kaki dari dalam, tanganku mendingin dan jantungku berdegup semakin kencang.

            Pintu terbuka. Sesosok pria paruh baya berdiri menghadang di muka pintu. Senyum terkejut menghiasi wajahnya saat melihat siapa tamunya.

            “Lingling!”

            “Satya…” suaraku terasa sulit keluar dari tenggorokanku.

            Betapa besar dorongan hati ini untuk memeluk Satya. Betapa ingin jiwa ini menghambur ke dalam pelukannya. Namun aku tidak mungkin lagi melakukan hal itu.

            “Masuklah… masuklah… di luar panas sekali.” Satya berkata ramah.

            Aku melirik Nikolas. Ia mengangkat bahunya dengan lagak, “Terserah kau, Mama!” Aku tersenyum padanya dan berpaling menatap Satya, “Satya, bukannya Nikolas mau bersikap tidak sopan, tapi ia ada janji makan siang di sekitar sini. Nanti sorean dia akan menjemputku lagi. Kamu tidak keberatan, bukan?”

            “Ah, tentu saja. Kasihan dia kalau harus menemani kita yang tua dan membosankan ini!” kata-kata Satya membuatku tertawa. Tahun-tahun berlalu, namun selera humornya tidak hilang.

            Rasa sejuk menghinggapi kepalaku saat aku masuk ke dalam. Bangunan belanda memiliki ciri khas langit-langit yang tinggi sehingga ruangan terasa lebih sejuk. Aku baru saja duduk di sofa ruang tamu (dan mulai mengenang-ngenang betapa dulu aku sering sekali bermain-main di sini) ketika Satya malah mengajakku ke ruang tengah, “Kita ke dalam saja, Ling! Kamu seperti tamu saja.”

            Saat membuntuti Satya ke ruang tengah, aku mencoba untuk tidak melihat ke arah foto-foto yang tertempel manis di dinding. Namun, seberapapun aku berusaha, aku malah merasa figur-figur di foto tersebut mengawasiku.

            “Kamu tidak diabetes, kan?” Satya melirikku sekilas saat ia menuangkan teh panas ke cangkir.

            Aku mengamati tangan tua Satya yang hitam tersengat matahari. Sebentuk cincin emas melingkar di jari manis tangan kanannya. Aku melirik tanganku dan merasa getir saat melihat urat-urat hijau yang bertonjolan. Kami sudah tua.

            “Tidak…”

            “Baiklah,” Satya menuangkan sesendok gula ke dalam cangkir dan mengaduknya searah jarum jam. Pikiran gila berpusar di benakku. Seandainya aku mengaduk teh gula itu berlawanan arah jarum jam, bisakah kita memutar waktu kembali ke masa lalu?

*

        

Read More

Don’t Tell Lies!

Di suatu hari Kamis yang cuacanya cukup panas untuk menyempitkan otak, Blackberry saya tidak henti-hentinya berbunyi. Isinya cukup membuyarkan konsentrasi saya dari membuat jurnal dan sembari berharap atasan saya tidak sadar, saya memutuskan untuk menangguhkan pekerjaan dan berkonsentrasi pada BBM yang saya baca. Isinya cukup menggelikan dan membingungkan (karena tulisannya dipenuhi autotext yang kadar alaynya cukup keterlaluan). Intinya si pengirim pesan ini mengomel di siang bolong karena merasa dituduh bermulut besar oleh teman perempuan saya.

            Si cowok pengirim pesan ini mengatakan ia merasa difitnah dan sangat sakit hati karenanya. Ia tidak sudi dikata-katai sebagai mulut besar yang sama saja artinya dengan tukang wadul alias tukang ngibul. Belakangan, setelah saya melakukan pengecekan silang a la detektif, saya menghembuskan nafas lega karena teman perempuan saya tidak pernah menfitnah si cowok ini. Justru sebaliknya, memang si cowok ini terbukti tukang kibul. Hahahaha…

            Bicara tentang kibulan, saya teringat akan suatu cerita bijak yang cukup terkenal. Saya ingin menuliskannya lagi supaya yang belum tahu menjadi tahu dan yang sudah tahu tetap mengingat ini.

            Alkisah, ada seorang anak laki-laki yang senang sekali berbohong. Satu kampungnya sudah kenyang dibohongi oleh anak ini. Ibu sang anak sudah mencoba mencuci mulut anaknya dengan sabun, berharap sia-sia anaknya tidak akan lagi senang membohongi orang, tapi cara itu tidak berhasil.

            Suatu hari, sang ibu menggunakan cara lain untuk menghukum anaknya. Ia menyuruh anaknya menggunting bulu-bulu ayam menjadi serpihan-serpihan kecil yang halus. Serpihan bulu ayam itu lalu diberi pewarna biru. Sang ibu lalu menyuruh anaknya membuka jendela dan membuang serpihan-serpihan bulu biru itu. Dengan segera angin menerbangkan serpihan bulu biru itu ke segala penjuru arah kota. Sang ibu lalu menyuruh anak lelakinya untuk mengumpulkan kembali serpihan bulu biru yang telah tersebar ke mana-mana itu. Anak lelaki itu pun menangis karena ia tahu tidak mungkin untuk mengumpulkan kembali semua serpihan bulu itu.

            Sang ibu pun menjelaskan bahwa serpihan bulu itu sama dengan kebohongan si anak. Kebohongan yang terlanjur diucapkan tidak dapat ditarik kembali. Cerita  berakhir bahagia dengan si anak lelaki yang menyadari kesalahanya dan tidak suka berbohong lagi.

            Saya membaca kisah itu di majalah anak-anak sewaktu saya masih SD dan setelah sekitar 17 tahun berlalu pun, saya masih mengingat cerita itu dengan baik. Saya sendiri sudah pernah mendengarkan kibulan cowok yang ngomel-ngomel via BBM ini dan sebagai penulis saya sedikit terintimidasi akan imajinasinya dalam mengarang cerita. Tapi, dengan profesi saya sebagai penulis fiksi pula saya sadar saya cukup berbakat untuk berbohong. Dan saya tidak mau melakukannya. I never tell lies. Why? Bukan karena takut dosa, tapi lebih karena malas. Kebohongan yang satu akan menuntun saya pada kebohongan lain yang harus diucapkan. Belum lagi saya harus mengingat kebohongan itu. Ini tips dari saya: jika anda mau berbohong, anda harus bisa menjaga cerita anda konsisten. Itu akan membuat kebohongan anda sulit diketahui. Tapi ini melelahkan, bukan? Saya tidak mau berlelah-lelah jadi saya memilih untuk selalu jujur.

            Kebenaran kadang menyakitkan.

Ah yesss misterrr… itu benarrrr. Tapi saya lebih senang menerima kebenaran yang menonjok daripada dibohongi. Karena percayalah, bagi saya, sadar kalau saya dibohongi itu lebih menonjok lagi (just like you got a double jab). Berbohong tidak akan menyelesaikan masalah. Dengan jujur, kita justru akan menyadari penuh situasi (atau masalah) apa yang sedang terjadi, dan kita bisa memikirkan solusi yang tepat untuk mengatasinya. Ini saya katakan untuk relasi pertemanan, pekerjaan, dan (tentu saja)  percintaan. 

            Ah, ya! Tapi ini semua adalah tentang pilihan. Anda bisa memilih untuk menerima kebohongan dan menerimanya seolah-olah itu adalah kebenaran. Anda bisa memilih untuk berbohong dan meyakinkan semua orang hingga mereka mengangguk-angguk setuju seolah Anda sedang menyampaikan kebenaran. Tapi saya tetap berprinsip untuk berkata jujur. Soal dibohongi, ah, saya juga suka dibohongi_tapi hanya ketika saya membaca buku fiksi dan menonton film :P


Christ of Saint John of the Cross (1951), oil on canvas | artwork by Salvador Dalí

Christ of Saint John of the Cross (1951), oil on canvas | artwork by Salvador Dalí

Mengejar cinta seseorang itu sama seperti minum bir. Kamu harus tahu, kapan kamu masih dapat melanjutkan minum dan kapan kamu harus berhenti sebelum kamu jatuh mabuk.
A Letter under The Mango Tree


Bali, 4 Januari 2011

 

To my dearest Bumblebee,

Hai hai Bi… Kamu tahu? Jantung aku rasanya berhenti sedetik waktu baca tulisan di cafe ini. Café under The Mangoes Tree. Iya, pohon mangga! Aku jadi ingat judul albumnya Jack Johnson. The Mango Tree. Dan otomatis aku jadi ingat kamu, Bi. Kamu yang ngenalin Jack Johnson ke aku dan lagu Do You Remember masih jadi lagu favorit aku. Do you remember when we first met? I sure do. It was a time in early September…

Iya, kita bertemu di bulan September, Bi! Aku selalu ingat sama kamu setiap kali mendengar lagu itu. Aku nggak yakin apakah kamu juga mengingat aku kalau mendengar lagu itu. Tapi aku harap, kamu mengingat aku dan tersenyum. Karena aku tersenyum setiap mengingat kamu, Bi.

            Bukan berarti kamu nggak pernah menyebalkan lho! Ada masa-masanya aku merana banget gara-gara kamu. Ketika kamu tiba-tiba berubah. Kamu jadi cuek. Jadi lain. Keheningan yang mencekam saat kita hanya berdua di mobil. Waktu itu aku pura-pura nggak perduli, Bi. Padahal hati ini kayak diiris-iris pake silet!! Lengkap dengan pertanyaan tak terjawab, “Salah gue apa ya?” T_T

            Hmm, seandainya waktu itu aku menurunkan sedikit harga diri untuk jujur bahwa aku masih sayang sama kamu, kira-kira apa yang bakalan terjadi ya Bi? Apakah situasinya bakalan beda? Atau tetap saja kita bakal tetap memutuskan bahwa jalanku bukan lagi jalanmu?

            Aku benci karena kamu berubah, Bi. Kata-katamu bahwa kita akan tetap berteman terasa palsu. Kamu jadi beda. Aku nggak kenal lagi Bumblebee-ku. Aku sedih. Betapapun aku berusaha, aku merasa kamu membangun tembok pembatas di sekeliling kamu. Hingga selalu ada jarak di antara kita.

            Lalu lama-lama aku jadi sebal, Bi. Sadar nggak sih kamu tiba-tiba aku berhenti sms kamu? Berhenti nulis comment di status facebook kamu. Berhenti nyapa kamu di Yahoo Messengers. Aku harap kamu sadar. Karena kalau nggak, berarti sia-sia perjuangan aku menahan diri untuk nggak menyapa kamu. Ahahaha… :p

            Rupanya pepatah itu benar ya, Bi? Bahwa waktu akan menyembuhkan. Aku rasa aku sembuh setelah ketemu dia, Bi. Dia memang nggak seganteng kamu. Nggak setinggi kamu. Nggak seatletis kamu. Nggak seromantis kamu. Tapi dia cowok yang baik dan aku sayang sama dia, Bi. Dia lucu dan dia bisa bikin aku tertawa.  Sama seperti dulu kamu juga selalu bisa bikin aku tertawa.

            Aku lupa kenapa aku bisa tiba-tiba nyapa kamu lagi di YM. Oh iya! Karena waktu itu aku lagi bete sama dia dan aku butuh banget temen curhat. Kebetulan kamu lagi online. Jadilah aku curhat sama kamu. Halah!

            Aku nggak tahu apakah ini perasaan aku saja, tapi aku merasa kamu lega saat aku curhat ke kamu tentang dia. Lega karena itu berarti aku sudah berhenti mengharapkan kamu. Lega karena itu berarti aku sudah move on, sama seperti kamu sudah move on. Aku senang karena cewek baru kamu kelihatannya baik dan sayang sama kamu.

            Dengan asumsi bahwa kamu benar-benar lega, aku juga ikut lega, Bi. Karena akhirnya kamu meruntuhkan “tembok” kamu. Dan dalam perbincangan kita yang sekitar satu jam itu, aku merasa kita kembali lagi ke masa lalu, saat kamu masih jadi Bumblebee-ku. Dan kalau dipikir-pikir, lucu juga, ya, bagaimana kita bisa saling cerita tentang pasangan baru kita. Mungkin ini memang jalan yang terbaik ya, Bi?

            Betapa pun dulu kamu pernah sangat menyebalkan, tapi aku nggak pernah benci sama kamu, Bi. Kamu tahu kenapa? Karena aku pernah sangat sayang sama kamu. Aku bahagia waktu jalan sama kamu, Bi. Dan aku harap kamu pun pernah bahagia sama aku.  Aku tetap sayang sama kamu, Bi. Walaupun saat ini aku lebih sayang sama dia. Aku nggak pernah menyesal bertemu sama kamu, Bi. Aku justru bersyukur karena Tuhan memberi aku kesempatan untuk bertemu kamu,

            Bi, aku nggak tahu apakah kamu bakalan baca surat ini. Aku juga nggak bisa bayangin reaksi kamu kalau kamu baca (terutama saat kamu baca kalimat bahwa aku masih sayang sama kamu). Kalau kamu baca, pura-pura saja kamu nggak pernah baca, oke?

            Bi, take care, ya! Kita nggak bisa lagi jadi kekasih, bukan berarti kita nggak bisa jadi teman kan? J See you, Bi….

 

XOXO,

Kayla

 

PS: Someday we’ll know why I wasn’t meant for you

Marchaela’s notes:

surat ini aku ikut sertakan dalam proyek Surat Terakhir untuk Penghuni Mars #STUPM yang digagas oleh mbak Naluri (@naluriii) dan diterbitkan melalui www.nulisbuku.com. Dan ini aku tulis berdasarkan perasaan sebenarnya lho. LOL =))

dan ini adalah cover dari buku kedua kumpulan cerpen Cerita untuk Bumi. di buku ini, kamu dapat membaca cerpen saya yang berjudul Ari-ari. Jika kamu menyukainya dan ingin memiliki buku ini, kamu dapat memperolehnya di http://www.nulisbuku.com/books/view/cerita-untuk-bumi-2-ari-ari

dan ini adalah cover dari buku kedua kumpulan cerpen Cerita untuk Bumi. di buku ini, kamu dapat membaca cerpen saya yang berjudul Ari-ari. Jika kamu menyukainya dan ingin memiliki buku ini, kamu dapat memperolehnya di http://www.nulisbuku.com/books/view/cerita-untuk-bumi-2-ari-ari

ini cover buku kumpulan cerpen proyek Cerita untuk Bumi. Di dalamnya ada cerpen saya yang berjudul “Ayah Fouad”. Bagi yang ingin memperoleh buku ini, dapat dibeli di http://www.nulisbuku.com/books/view/cerita-untuk-bumi-buku-1-rumah-keong

ini cover buku kumpulan cerpen proyek Cerita untuk Bumi. Di dalamnya ada cerpen saya yang berjudul “Ayah Fouad”. Bagi yang ingin memperoleh buku ini, dapat dibeli di http://www.nulisbuku.com/books/view/cerita-untuk-bumi-buku-1-rumah-keong